Senin, 06 September 2010

SEJARAH ERAU

SEJARAH ERAU

TumanggungArga ERAU adlah salah satu budaya Masyarakat Dayak yg ada di Propinsi Kalimantan Timur. Biasanya acara adat Erau ini diselenggarakan satu tahun sekali di Kabupaten Kutai Kartanegara (Tenggarong). Pada acara inidihadiri oleh semua Suku Dayak yg ada di Pulau Kalimantan termasuk Suku Dayak yg berada di wilayah Malaysia (Serawak dan Kucing).
Erau merupakan kegiatan atau acara besar yang banyak mengandung makna yg bersifat sakral,ritual dan juga bersifat hiburan.
Erau tersebut asal katanya dalam bahasa Kutai "EROH" yg artinya ramai, riuh,ribut,suasana yg penuh suka cita. Suasana yg ramai,riuh rendah tersebut dlm arti banyaknya kelompok/orang-orang yg mempunyai hajat untuk ikut pada upacara tersebut.
Berdasarkan cerita rakyat Kutai, disebuah dusun yg bernama Dusun Jaitan Layar, tinggallah seorang petinggi (Kepala Dusun) bersama istrinya. Kehidupan di dusun tsb sangat makmur, hasil panen melimpah, rakyat hidup tentram. Hal ini dikarenakan Petinggi dan istrinya memerintah dgn adil dan bijaksana. Tetapi kebahagiaan itu trasa kurang krn sdh puluhan tahun mrk hidup sbg suami istri, namun Dewa tdk menganugrahkan seorang anakpun kpd mrka.
Suatu malam Petinggi dan istrinya dikejutkan oleh suara yg gegap gempita, malam yg tadinya gelap gulita berubah menjadi terang benderang. Dengan memberanikan diri Petinggi dan isterinya keluar rumah untuk mengetahui keadaan yg sebenarnya. ALangkah terkejutnya mereka karena di halaman rumahnya dijumpai sebuah Batu Naga Mas yg bercahaya, di dalamnya terdapat seorang bayi berselimutkan kain berwarna kuning,tangan kananya mengenggam sebutir telur, dan tangan kirinya memegang sebuah Keris Mas yg menjadi kalang kepalanya.
Belum hilang rasa terkejut suami istri itu, entah darimana datangnya terdengar suara gaib. "Bersyukurlah kalian, karena doa kalian utk mendapatkan anak dikabulkan. Bayi ini adalah keturunan Dewa-Dewa di Kayangan, krnnya jangan disia-siakan. Jangan dipelihara seperti anak manusia biasa dan berilah nama anak ini AJI BATARA AGUNG DEWA SAKTI".
Wkt terus berlalu tak terasa usia Aji Batara Agung Dewa Sakti sdh lima tahun. Seusia ini sukarlah ia ditahan untuk bermain di dlm rmh saja. Ia ingin bermain-main di halaman, ingin bermain-main di alam bebas dan mandi ke tepian.
Sesuai petunjuk Dewata mk Petinggi Jaitan Layar mempersipakan Upacara TIJAK TANAH dan upacara ERAU mengantar sang anak mandi ketepian utk pertama kalinya. EMpat puluh hari empat puluh malam diadakan Pesta Erau, berbagai adu ketangkasan diperlihatkan silih berganti,makanan dan minuman semua dihidangkan. Gamelan Gajah Perwata siang malam ditabuh membuat suasana bertambah meriah. Seluruh penduduk Dusun Jaitan Layar bersuka cita.
Demikian sekilas riwayat singkat utk pertama kalinya dilakukan Upacara Erau pada Upacara TIJAK TANAH dan Mandi Ketepian yg dilakukan oleh penduduk Jaitan Layar kepada AJi Batara Agung Dewa Sakti yg merupakan cikal bakal keturunan raja-raja Kutai Kartanegara.
Setelah berakhirnya masa Pemerintahan Kerajaan/Kesultanan Kutai Kartanegara yaitu pada tahun 1960 menjadi daerah otonom maka oleh pemerintah daerah Kabupaten Kutai tradisi Erau tetap dipelihara dan dilestarikan sbg warisan budaya bangsa. Kini Erau menjadi acara atau kegiatan rutin Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sbg pesta rakyat dlm rangka memperingati hari jadi Kota Tenggarong sbg pusat pemerintahan di Kabupaten Kutai Kartanegara...SEKIAN..(Sumber : Bermacam-macam sumber)






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar